Mencari-cari Alasan (kita vs mereka)

Bismillahirrahmaanirrahiim

Menjelang mukhayam:

‘Maaf, saya ada agenda keluarga ke luar kota.’

‘Apa tidak bisa ditunda?’

‘Soalnya besoknya juga ada acara lagi.’

‘Tapi ini kan mukhayam sapu jagad, ukht.’

‘Yaa, habis gimana ya…tetap tidak bisa.’

*Kadang-kadang, kita menemukan kondisi di atas.

*Atau saat liqa

‘Liqa sudah mulai ni, Antum di mana?’ (sms dikirim)

‘Maaf, teh. saya masih kecapean baru pulang kerja. Izin dulu’

Capek. bisakah dijadikan alasan?

*atau saat rapat

‘Akh, katanya antum kemarin ga datang saat rapat abis shubuh, ya? trus katanya cuma DPC kita yang ga ada wakilnya.’

‘Afwan, akh. Kemarin itu hujan deras abis shubuh, makanya saya ga bisa berangkat.’

‘Hujan deras? Bukannya antum punya jas hujan? Antum pernah ga lihat ana ga datang kerna hujan? Bukannya rumah ana lebih jauh dari rumah antum?’

Hening. Tak ada tanggapan.

Hujan. Akankah jadi penghalang?

Soal alasan, kita memang suka mencari-carinya, apalagi kalau murabbi atau pembina mudah memberi izin, dan dari pengalaman tidak pernah ada masalah dengan izin, tidak ada iqab atau amarah dari atas, kita pun menikmati ‘izin’ yang diberikannya. Tetapi, apakah di hadapan Allah masalahnya juga ‘selesai’?

Dalam masalah-masalah dakwah, tarbiyah, dan akhirat, orang-orang beriman tidak semestinya banyak minta izin.

Para pendahulu kita, selalu bersedia memenuhi panggilan, mereka tidak meminta izin.

“Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk tidak ikut berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertaqwa.” (Q.S At-Taubah: 4)

Suatu hari, datanglah sekumpulan orang Islam meminta izin kepada Rasulullah untuk tidak ikut perang Tabuk dan Rasulullah mengizinkannya. Maka turunlah firman Allah:

“Semoga Allah memaafkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (dalam keuzurannya) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta?” (Q.S.At-Taubah: 43)

Itulah maksudnya, andaikan kita pun diizinkan dengan alasan kita, belum tentu selesai urusan dengan Allah, karena Ia Maha Tahu apa yang ada dalam hati kita.

Apakah kita merasa capek saat hendak berangkat?

Tiba-tiba motor mogok?

Tiba-tiba anak rewel?

Tiba-tiba inget punya PR?

Waspadalah, waspadalah, adakalanya karena dari awal azzam kita kurang kuat, niat kita kurang bulat, maka Allah tidak ridha dengan itu dan dijadikanlah kita golongan yang tertinggal.

“Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka. Maka Allah melemahkan mereka, dan dikatakan kepda mereka: ‘Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.’ ” (Q.S.At-Taubah: 46)

Maka, jika dari awal kita berniat untuk tidak hadir, biasanya akan selalu muncul alasan untuk itu. Sebabnya bisa jadi, karena Allah tidak menghendaki mereka yang niatnya ridak bulat, azzamnya kurang kuat, jika mereka ikut, bisa-bisa malah menambah masalah.

Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas maju ke muka di celah-celah barisanmu untuk mengadakan kekacauan di antara kamu, sedang di antara ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah Mengetahui orang-orang yang zalim. (Q.S At-Taubah: 47)

Karena itu jika al ukh (saya maksudnya), berniat tidak hadir karena alasan:

hujanlah…

capelah…

panaslah…

banyak tugaslah…

habis bensinlah…

kendaraan sudah terlanjur dimasukinlah…

de-el-el-lah…

waspadalah, jangan-jangan memang niat kita dari awal kurang bulat dan Allah tidak suka dengan itu.

Tetapi, ada yang lebih berat dari itu:

al-ukht yang tidak (ingin) hadir dan tidak minta izin dulu, justru menyampaikan alasan-alasannya ke al-ukht yang lain, berpikir siapa tahu ada yang mengikutinya..hehe.^_^

Nah, yang ini ayatnya lebih berat dari itu:

“Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata, ‘Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini.’ Katakanlah, ‘Api neraka Jahannam itu lebih sangat panas(nya) jika mereka mengetahui.'”

Mereka juga Mencari-cari Alasan…

Para sahabat ra yang mulia, mereka juga mencari-cari alasan saat terbentang sebuah amalan. Lihatlah beberapa contoh berikut:

Tersebutlah seorang sahabat yang mulia, Abdullah bin Mughfil namanya. Saat genderang perang ditabuh berkumandang, ia ingin ikut berangkat berperang, tapi ia tidak punya bekal, tidak punya senjata, tidak punya binatang tunggangan.

Beberapa sahabat lain juga bernasib sama, seperti Ulyah bin Yazid ra, tapi mereka semua yang ingin ikut  berperang ke medan jihad. Mereka datang menemui Rasulullah minta perbekalan, tapi Rasulullah bilang, “sudah habis perbekalannya”, mereka pun kembali dengan air mata bercucuran, sedih karena tak ikut berperang. Turunlah firman Allah,

“Dan tiada (pula) berdosa atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu.”, lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan.” (Q.S. At-Taubah: 92)

Contoh lain, orang-orang miskin di zaman Rasulullah SAW:

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Sahabat Muhajirin yang miskin datang kepada Rasulullah SAW dan mengadu, “Orang-orang yang kaya mendapatkan derajat yang tinggi dan kenikmatan abadi.” Beliau bertanya, “Mengapa demikian?” Mereka menjawab, “Mereka mengerjakan shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaiman kami berpuasa, dan mereka juga bersedekah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s