kadang tak semudah itu

Kedewasaan seseorang bisa dilihat dari bagaimana cara dia  menghadapi semua ujian hidup yang menimpanya. Ya, mungkin ada masa ketika masalah itu datang, kita kaget akan hal tersebut, dan akhirnya sikap kita jadi kurang tepat terhadap masalah tersebut. Alih-alih ingin segera menyelesaikan masala tersebut, malah jadi muncul masalah baru. Nah, mungkin ada sesuatu yang terlewatkan oleh kita.. Yang saya menyebutnya sebagai kunci yang hilang…

Berkaca pada episode hidup yang pernah dilalui, ketika kita mengalami sesuatu yang tidak kita sukai, maka jangan menyalahkan siapapun. Pada dasarnya, semua itu terjadi karena kita zhalim terhadap nikmat Allah..

Segala keburukan yang menimpamu adalah dari perbuatanmu sendiri, dan Allah telah memaafkan banyak dari kesalahan-kesalahanmu.. (Al-Qur’an)

Dan akan ada konsekuensi yang harus dilewati dan pastinya harus dinikmati, sebagai ajang pembersihan dan penguatan jiwa, serta peningkatan kualitas kedewasaan diri.🙂

Kita mungkin pernah bertanya, apakah sebegitu besarnya kesalahan diri kita? Hingga orang yang kita anggap sahabat pun sudah tidak acuh terhadap kita, ketika kita melakukan kesalahan dan menunjukan tidak suka kepada seseorang.

Saya jadi teringat cerita sahabat saya, “ketika sahabat kita melakukan salah (lagi dan lagi), bagaimana mungkin ditinggalkan? Bukan sayang karena Allah dong berarti jika hati kita jadi acuh tak acuh atau bahkan benci sama sahabat kita itu…” 

Mungkin, inilah kunci yang hilang itu. Dan ada konsekuensi yang harus kita terima, yaitu tidak akan pernah melihat lagi cinta untuk kita dari sahabat itu..

Dan kadang tak semudah itu..

 Memang benar, ketika kita telah membuat lubang dalam hati seseorang, maka kata maaf saja tidak cukup. Butuh waktu yang lama untuk mengembalikannya seperti semula, dan bahkan tidak akan pernah kembali ke bentuk semula.  Tapi kita harus tetap percaya, bahwa suatu saat, ia akan kembali.. Ketika kita dijauhinya ada hikmah dari Allah, yaitu supaya kita bisa lebih memahaminya. Karena kita tahu, sahabat itu adalah orang pertama yang mengingatkan kita ketika kita salah dengan cara yang baik, yang akan tetap di samping kita meski kita menyuruhnya pergi. Sahabat yang menyayangi kita karena Allah tidak akan mengatakan bahwa kesabarannya sudah habis atau melepas diri dari kita. Sahabat itu adalah yang akan tetap mau menjadi sahabat kita…🙂

Dan, satu lagi, ketika sahabat kita masih memperlakukan berbeda dengan kita, masih bersikap dingin dengan kita, bahkan sering menyindir kita, atau mungkin tetap tidak suka, maka tetaplah beryakin diri pada-Nya… Sebenarnya dia masih peduli dengan kita, cuma ada rasa kekhawatiran saja akan mengalami hal yang sama untuk kedua kalinya, jadi lebih memilih jalan tengah untuk menjauhi kita.  Keep husnudzan intinya… Tetap membalas setiap perlakuannya pada kita dengan balasan akhlak terbaik.. seperti halnya Rasulullah meneladankan akhlak tersebut..🙂

Saya beristighfar atas semua dosa dan kesalahan.. Saya memang belum bisa berkaca pada kesalahan seperti apa yang sudah diperbuat. Tapi saya juga akan mencobanya..

Semoga bisa jadi ajang introspeksi dan perbaikan diri, jadi ladang pahala juga untuk meluaskan hati-hati kita.🙂

Kata orang pengalaman itu adalah guru terbaik. Semoga bagi kita yang lagi berselisih paham dapat saling menerima kelebihan dan kelemahan yang lain dengan ikhlas. Itu kata kuncinya. Dengan ikhlas Allah akan memberikan lebih dari apa yang kita harapkan. Walaupun memang, pada mulanya untuk bersikap ikhlas itu pun sulit untuk dijalankan. Bagaimanapun banyaknya orang akan menasihati kita tentang keikhlasan itu bagaimana dan dampaknya, jikalau kita sendiri masih belum bisa mau membuka hati, tentu saja itu akan terlihat sia-sia. Kita hanya berharap semoga kita bisa menjadi pribadi-pribadi yang baik dari sebelumnya. Ini hanyalah sebuah proses pendewasaan bagi kita semua untuk menyikapi sebuah masalah dengan pikiran yang lebih matang lagi. Sekarang yang kita butuhkan adalah pemahaman atas kepribadian diri sendiri dan sahabat-sahabat kita.🙂

4 thoughts on “kadang tak semudah itu

  1. membuat masalah baru bagaimana?

    masalah tidak akan melebar jika tidak ada pihak ketiga, keempat, kelima, dst yg juga mengetahui masalah yg sama…cukup tabayyun 2 pihak saya rasa tidak akan menambah masalah baru yg ai maksud itu

    jengah dgn sahabat yg selalu melakukan kesalahan yg sama itu salah? hmmm…coba posisikan ai di posisi orang2 yg mengingatkan, jengah tidak ketika ai ingin menunjukkan kasih sayang kpd shbt nya tapi tidak diterima dgn baik???
    yah…mungkin ai bisa lbh bersabar dibanding orang itu. Tapi mungkin juga ia tidak seShalihah ai

    • hehe, yaitu tadi, Tan.. Ai ingin menyelesaikan masalah itu, tapi malah menjadikan semakin bermasalah karena sikap ai sendiri..
      Ai sekarang ngerti bagaimana perasaan kalian…😦
      Dan berikan ai kesempatan untuk memperbaiki itu semua, jgn tinggalin ai sendirian dlm perasaan bersalah… Jgn tinggalin ai dlm perasaan yang sedikit demi sedikit mengubur ai dlm kerugian ditinggal kalian… T-T

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s