Mencari Kekayaan Makna dari Diamnya Ayah

Akan selalu ada sisi positif ketika kita melihat sesuatu tidak hanya dari satu arah.

Benar lhoo, itu yang aku rasakan.

Kamu bagaimana?πŸ™‚

Biasanya aku suka memendam segala hal di dalam kepala atau pikiran saja. Jarang menuangkan ke dalam bentuk apa pun, termasuk tulisan. Tapi entah kenapa, hari ini berbeda. Aku g mau momen pikiran aku saat ini terlupakan begitu saja dengan memori2 lainnya.

Saat ini, aku ingin bercerita tentang ayah.

Ya, ayah adalah ayah.

Kalian memanggilnya papa, bapak, atau mungkin abi.. Sama saja..πŸ™‚

Ayah, yang melepas kita untuk membuat kita tegak dan bisa.πŸ™‚

Diam, adalah karakter yg sering dilekatkan pada diri para ayah. Tentu tidak semua mereka bersikap demikian dalam keluarganya, tetapi dalam asaumsi dan benak umum kita, ayah kita lebih banyak diam dan tidak banyak bicara. Keceriaan bersama ayah mungkin banyak kita alami pas kita masih kanak-kanak. Betul, g?πŸ˜€

Setelah beranjak remaja, dan kemudian dewasa, komunikasi dan interaksi dengan ayah terasa semakin berkurang. Itu ceritaku, bagaimana ceritamu?πŸ™‚

Namun, diam bukan berarti tak memiliki cinta. Bukan pula sebuah ekspresi dingin dan sikap masa bodoh.

Bukan.

Sebab di antara para ayah, biasanya ada yang memang agak sulit menyampaikan dan mengekspresikan kata cinta pada anak-anaknya. Bahkan seorang ayah di zaman Rasulullah SAW, pernah menyatakan kepada beliau kalau ia tak pernah mencium anaknya sendiri. Tak seperti ibu yang senantiasa ingin mencium kita.

Ayah tidak memberitahuku bagaimana cara untuk hidup. Dia hidup dan membiarkan aku melihat bagaimana dia melakukannya. (Clarence Budington Kelland)

Di balik diamnya ada cinta. Ya, cinta yang menyimpan banyak sekali makna. Dan tugas kitalah untuk mencari makna-makna itu, agar kita bisa menemukan bahwa diam itu benar-benar cinta, bahkan cinta yang luar biasa tulus dan sangat dalam.

Di antara makna-makna dari diam itu adalah, teladan dan kebanggaan sebagai seorang ayah sejati. Bahwa keberadaan kita di sisi ayah, adalah sebuah sebuah kebanggan bagi dirinya. Di dalam hatinya berdialog dengan dirinya sendiri, betapa ia tak henti bersyukur melihat perkembangan kita. Kita yang sudah besar, kita yang sudah berhasil, kita yang sudah bekerja, dan sering membantu kebutuhannya, atau bahkan kita yang telah memberinya cucu. Hehehe..πŸ˜›

Ayah terus berbuat, meski tanpa banyak bicara. (iya gitu? :P)

Hanya untuk kita.

Will Roger mengatakan, “Yang ayah wariskan kepada anak-anaknya bukan kata-kata atau harta kekayaan, tetapi sesuatu yang tak terucapkan, yaitu teladan sebagai seorang pria dan seorang ayah yang sejati.”

Diamnya ayah juga menyimpan makna kesungguhan dan tanggung jawab. Setiap hari, dengan penuh semangat ayah berangkat mencari nafkah, bekerja keras banting tulang. Bahkan kadang-kadang ayah harus berangkat pagi-pagi sekali, sebelum kita bangun.

Di antara kita mungkin ada yang memiliki ayah dengan pekerjaan yang sangat berat. Ah, tapi karena cinta kepada anak-anaknya, semangatnya tak pernah pudar atau surut ke belakang.

Diam sering pula bermakna kegalauan dan kerisauan. Saat kita mulai remaja, atau ketika sudah beranjak dewasa, ketika kita sudah memiliki kesibukan baru di luar rumah, semakin tidak banyak waktu untuk bersama ayah kita. Maka dalam hatinya dia berkata, “Anakku mulai menjauh dariku, dan takkan pernah ku rengkuh kembali seperti ketika ia masih kanak-kanak.”

Galau, karena kita sudah memiliki dunia kita sendiri.

Risau, karena secara perlahan jarak pun terus bertambah jauh.

Saat kita benar-benar meninggalkan rumah, karena tuntutan pertumbuhan diri, kegalauan itu semakin bertambah.

Bagi yang akan segera atau telah menikah, detik-detik memulai hidup baru bagi kita adalah detik-detik perpisahan bagi orang tua kita.

Tidak secara ikatan, tapi secara kesempatan.

Jika sesaat kala itu diai nampak menjauh dari pandangan kita, mungkin dia sengaja menghindar untuk menyeka air matanya yang tak mampu ia tahan. Saat-saat itu begitu menyenangkan bagi kita, tapi ayah dan ibu, seolah sedang menanti detik-detik akhir kebersamaan. Mereka hanya terdiam.

Diamnya ayah, kadang pula merupakan sebuah ekspresi kekesalannya pada diri sendiri karena merasa telah gagal mendidik kita, anak yang dicintainya, menjadi anak yang membanggakan.

Diam juga seringkali dilakukan ayah ketika ia marah. Bukan karena tidak sanggup berkata-kata, membentak, atau memukul. Tapi dia memilih diam dan memberi hukuman ringan karena mencintai kita. Imam Hasan Al-Banna juga kadang mengekspresikan marahnya dengan diam.

Diam adalah sebuah cara menghukum yang sering dilakukan oleh ayah. Dan kita mungkin pernah merasakannya. Sebuah cara yang sederhana dan tidak membuat fisik kita terluka. Tapi meski sederhana, barangkali dampak dari diam itu lebih membekas di hati kita.

Ada banyak makna yang tersembunyi di balik sikap diam seorang ayah. Ada kebanggaan sebagai seorang ayah, ada semangat dan tanggung jawab, ada kerisauan, ada kecewa, ada amarah yang sengaja diredam, dan ada banyak lagi yang lain. Tapi, apapun makna yang bisa kita simpulkan, selalu pelatuknya adalah cinta.

Ayah meredam amarahnya karena cinta.

Ayah bangga dan hidupnya selalu bersemangat juga karena cinta.

Ya, cinta kepada kita, anak-anaknya.

Dalam diam-diam itu…

#sumber: Majalah Tarbawi, dengan beberapa perubahan

One thought on “Mencari Kekayaan Makna dari Diamnya Ayah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s